Menurut ceritanya di Manado, orang yg meninggal dimasukkan dalam waruga dalam posisi duduk telungkup seperti bayi dalam kandungan, semua harta bawaan juga ikut serta ke dalamnya. Kemudian ditutup dari atas (juga atapnya dari batu). Dari sekian banyak waruga yang ada di manado dan minahasa, terdata lebih dari 2000 buah tersebar di seluruh wilayah Minahasa. Dan oleh pemerintah Belanda di tahun 1817 melarang kegiatan kubur mengubur ke dalam waruga karena alasan kesehatan dan kebersihan seperti penyakit kolera. Sebagian waruga kemudian diangkut ke wilayah Sawangan Airmadidi, dijadikan cagar budaya.
Desa Sawangan masih terhitung di kaki gunung Klabat, di bawah perbukitan, dialiri sungai Tondano yang deras dan berbatu-batu. Lingkungan alam yang masih alami segar dan sejuk.
untuk artikel hot lainnya, silakan mengunjungi blog saya : www.harsantohalim.blogspot.com
wah seruu..
BalasHapusfyrdha juga pernah masuk ke daerah kema, minahasa. karena akan ke makam nya kakek, dan sempat melihat waruga di pinggir jalan,..:)
bentuknya aneh. tapi itulah indonesia. kaya akan kebudayaan,,,
Wajib di kunjungun nich ...
BalasHapus